Ads 468x60px

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 15 Agustus 2017

Teror Charlottesville dan Neo-Nazi di Belakang Trump

Teror Charlottesville dan Neo-Nazi di Belakang Trump


Saat Barack Obama terpilih jadi Presiden Amerika Serikat, orang mengira isu rasisme di Negeri Paman Sam adalah cerita masa lalu. Namun, ini yang terlihat di Charlottesville, Virginia, Amerika Serikat, Sabtu kemarin, 12 Agustus 2017: bendera Konfederasi dikibarkan, salut ala Nazi dipertontonkan, simbol Ku Klux Klan dan kelompok ekstrem kanan berseliweran di sana sini.

Di hari itu, segerombolan orang berkumpul di Emancipation Park untuk menggelar aksi "Unite the Right". Mereka memprotes keputusan pemerintah kota menurunkan patung Robert E Lee di Charlottesville. Lee merupakan komandan tentara Konfederasi Amerika pada masa Perang Sipil AS (1861-1865).

Al Jazeera menyebut "Unite the Right" ini sebagai aksi supremasi kulit putih terbesar sepanjang sejarah AS. Penggerak aksi ini adalah Jason Kessler, mantan jurnalis dan anggota kelompok ultranasionalis Proud Boys.

Aksi kelompok rasis itu mengundang demonstrasi tandingan. Di seberang barikade besi, berkerumun kelompok anti-fasis yang menentang mereka.

"Kalian akan dilempar ke api neraka!" teriak salah satu pendukung supremasi kulit putih, seperti diberitakan BBC, Senin (14/8/2017).

Makian itu disemburkan pada seorang gadis kulit putih yang tengah bergandengan tangan dengan temannya, seorang keturunan Afrika.

Tak lama kemudian, adu mulut pecah jadi bentrokan. Pada pukul 11.28 waktu setempat, status darurat diumumkan. Sekitar sejam kemudian, korban jiwa jatuh.

Saat jarum jam menunjuk pukul 12.42, sebuah mobil yang melaju kencang ditabrakkan ke arah demonstran penentang kelompok supremasi kulit putih. Satu orang tewas dan 15 lainnya terluka.

Pelakunya sempat kabur sebelum dibekuk aparat. James Alex Fields, Jr (20), sang pelaku, adalah seorang pendukung kelompok neo-Nazi.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sedang liburan di klub golfnya di New Jersey segera merespons insiden itu. "Kami mengutuk sangat keras aksi yang menghasut kebencian, kefanatikan, dan kekerasan, dalam berbagai sisi..."

Namun--sebagaimana kemudian dikritik banyak kalangan--Trump sama sekali tidak mengecam soal rasisme, paham supremasi kulit putih, atau Ku Klux Klan yang kental menyelimuti aksi itu.

Miliarder itu bahkan mengesankan apa yang terjadi di Charlottesville adalah hal yang lumrah. "Ini sudah lama terjadi di negara kita. Bukan era Donald Trump, bukan pula era Barack Obama. Ini sudah berlangsung sejak lama sekali."

Sikap yang jauh lebih "berani" justru ditunjukkan oleh putri kesayangannya, Ivanka. Perempuan yang menjabat sebagai penasihat senior Presiden Trump itu berkicau di Twitter, "Tidak ada tempat bagi rasisme, supremasi kulit putih, dan neo-Nazi di tengah masyarakat kita."

Mayoritas publik Amerika tidak puas atas reaksi sang presiden, termasuk para kolega Trump di Partai Republik.

"Presiden, kita harus menyebut aksi kejahatan itu secara terang benderang. Mereka adalah kaum supremasi kulit putih dan aksi itu adalah terorisme domestik," kata Senator Partai Republik, Cory Gardner, dengan nada keras.

Senator lain, Marco Rubio, "menampar" Trump dengan kicauannya, "Sangat penting bagi bangsa ini untuk mendengar @Potus (Presiden AS) mendeskripsikan peristiwa di #Charlottesville secara apa adanya, yakni aksi teror oleh kelompok #supremasikulitputih."

Barack Obama, presiden pendahulu Trump, bereaksi dengan mengutip pernyataan Nelson Mandela, "Tidak seorang pun dilahirkan untuk membenci orang lain karena warna kulit, latar belakang atau agamanya. Orang harus belajar untuk membenci, dan dengan itu mereka bisa belajar untuk mencintai. Karena cinta datang lebih alami ke hati manusia dibanding sebaliknya."

Kecaman setengah hati Presiden Trump ini dinilai banyak analis terkait dengan kenyataan bahwa kaum pembela supremasi kulit putih memang merupakan salah satu basis elektoral penting Trump pada pemilu lalu.

Simak saja bagaimana The Daily Stormer, sebuah surat kabar pendukung supremasi kulit putih malah memuji-muji sang presiden. "Komentar Trump bagus. Dia tidak menyerang kita. Dia hanya mengatakan bahwa negara harus bersatu. Tidak ada yang secara spesifik menyerang kita."

0 komentar:

Posting Komentar